Bagaimana Melihat Masa Depan

Oleh:
Denny Indra Sukmawan
Deputi Riset dan Kajian Strategis LINGSTRA

Tentang Forecasting Modern

Forecasting, oleh khalayak umum sering dipahami sama dengan kata “divine”, “augur”, “foretell”, “prophesy”, “scry” dan “foresee”.  Padahal kata “forecast” berasal dari dua kata, yakni kata “fore” yang berarti “di depan” atau “di awal” atau “di muka”. Lalu kata “cast” berarti membuat, mengetahui, mengkalkulasi, mengestimasi, atau menginterpretasi.  Berarti forecasting adalah membuat, mengetahui, mengkalkulasi, mengestimasi dan menginterpretasi masa depan sebelum terjadi. Adapun kata “cast” juga bisa berarti mengatur atau menyusun. Maka forecasting adalah upaya untuk memahami masa depan sebelum terjadi, dan kemampuan untuk mengubah sesuatu yang diprediksi.

Secara umum forecasting berarti mengantisipasi, atau memprediksi suatu kondisi atau peristiwa di masa depan melalui analisis data atau pengetahuan rasional. Umumnya forecasting ialah membuat prediksi dengan alat analisis yang tidak bisa digunakan oleh semua kalangan, melainkan pakar saja.

Berbicara kepastian dan ketidakpastian dalam dimensi waktu. Saya melakukan penyederhanaan, bahwa hal-hal dan peristiwa yang telah terjadi masa lalu dan sedang terjadi masa kini adalah kepastian. Adapun yang akan terjadi di masa depan adalah ketidakpastian. Dan keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan memiliki akar mendalam dalam diri manusia. Inilah alasan sederhana mengapa forecasting ada.

Bahwa mengetahui ketidakpastian (masa depan) sebenarnya bertujuan untuk menemukan kepastian dalam hidupnya saat ini. Oleh karena itu ada tujuan, lalu harapan, lalu kesempatan dan lainnya. Oleh sebab itu muncul pertanyaan-pertanyaan semisal: Saya akan menjadi apa?; Dimana saya akan tinggal?; Pekerjaan apa yang akan saya kerjakan?; Kapan saya menikah?; Apa yang akan terjadi dengan ayah-ibu saya?; mantan-mantan saya?; teman-teman saya?; Negara saya?

Roger Babson dan Industri Forecasting Modern

Berbicara tentang sejarah forecasting, silakan buka Fortune Tellers (2013). Dalam karyanya yang satu ini, Walter Friedmann mengulas siapa-siapa yang bertanggung jawab terhadap pondasi forecasting modern, khususnya di sektor bisnis dan ekonomi. Dari lima orang yang diulas Friedmann, hanya dua orang yang mendapat perhatian saya. Orang pertama bukanlah ilmuwan, bukan pula analis, apalagi pakar, melainkan pebisnis yang bernama Roger Babson.

Ada yang pernah dengar namanya?. Ditelusuri secara mendalam, ternyata seorang Babson yang bertanggung jawab paling besar terhadap industri forecasting modern yang dikenal seperti sekarang. Sejak 1911, Babson menerbitkan Babson’s Reports, sebuah newsletter mingguan yang berisi analisis statistik dari data bisnis dan finansial untuk memprediksi kondisi ekonomi kedepannya. Perlu digarisbawahi, Babson mampu menghasilkan keuntungan dengan menjual forecasting ekonomi dan informasi tentang kondisi bisnis terkini (bukan analisis). Pada 1920, Babson’s Report memiliki 10.000 subscriber dengan pendapatan hampir 1,5 juta dolar.

Disinilah awal ketenarannya sebagai forecaster. Pada 5 September 1929, Babson mengeluarkan sebuah pernyataan, bahwa cepat atau lambat kejatuhan akan melanda pasar saham Dow-Jones dan berdampak pada turunnya harga saham sebesar 20 poin. Ketika New York Times memuat pernyataan Babson, harga saham memang jatuh, hanya sekitar 3 poin.Justru keesokan harinya, saham melonjak lagi dan dalam beberapa minggu Babson menjadi bahan bully para pelaku ekonomi, terutama pialang saham di Dow-Jones.

Akan tetapi pada 29 Oktober 1929, atau hampir dua bulan dari pernyataan awalnya. Apa yang diprediksi Babson menjadi kenyataan, dalam satu malam harga saham jatuh sampai 50 poin.  From Zero to Hero! nama Babson muncul di New York Times, tertulis “Babson Clients Were Prepared”. Muncul di mobil-mobil dan kendaraan umum, tertulis “Be Right with Babson”. Oleh Babson, kebenaran forecasting-nya merupakan peluang besar untuk mencari pelanggan-pelanggan baru newsletter-nya.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan Babson’s Report. Isinya lebih banyak berupa tabel dan diagram, serta analisis sederhana tentang makna tabel dan diagram tersebut. Akan tetapi, Walter Friedman menggarisbawahi pengaruh newsletter Babson, bahwa hampir semua orang terutama pelaku ekonomi menyukai “analisis naik-turun atau turun-naik”. Coba bayangkan gambar diagram yang garisnya naik turun dan kadang turun naik. Entah analisis Babson benar atau tidak, merupakan masalah belakangan. Ketika dia benar, dia mengumumkan faktanya besar-besaran. Akan tetapi ketika dia salah, hanya beberapa orang yang sadar.

Ketenaran Babson menyisakan sebuah pelajaran penting, bahwa kesuksesan komersil seorang forecaster tidak sepenuhnya bergantung pada seberapa benar melihat ke masa depan. Dibalik pelajaran ini, kesuksesan awal Babson dengan bisnis forecasting-nya lah yang bertanggung jawab paling besar terhadap kondisi industri forecasting modern selama hampir satu dekade.

Dalam buku The Fortune Seller (1998) William Sharden mengungkap bahwa industri forecasting kurang lebih bernilai 200 milyar dolar per tahun, dan sebagian besar uang tersebut untuk sektor bisnis, ekonomi dan finanasial. Sekarang bahkan lebih besar lagi, kemungkinan nilainya sampai 400 milyar dolar per tahun, atau satu kali lipat dari tahun 1998. Coba bandingkan dengan tahun 1920-an ketika nilai industri tersebut berkisar 1 sampai 5 juta dollar.

Selama hampir satu dekade, seorang analis data (data analyst) memperkirakan permintaan produk baru, atau dampak dari penawaran khusus suatu produk. Seorang perencana skenario (scenario planner) menghasilkan narasi-narasi luas dengan tujuan memprovokasi gagasan murni dari kepala-kepala lainnya. Seorang nowcaster melacak tren di sosial media dan google, baik tren aktual maupun abstrak secara langsung. Badan-badan intelijen dan lembaga think tank mencari petunjuk dimana krisis geopolitik selanjutnya. Bank, konsultan dan lembaga ekonomi internasional selalu mengeluarkan produk forecasting berbasis analisis yang isinya puluhan sampai ratusan variabel ekonomi.

Selama hampir satu dekade juga, banyak dari produk forecasting yang dihasilkan oleh orang-orang tadi salah. Sederhananya, banyak uang terbuang dengan produk yang gagal. Bahwa miliaran dolar yang terbuang percuma belum mampu menyelesaikan tugas mendasar dari forecaster, yakni melihat masa depan dengan akurat.

Revolusi Forecasting

 

“When my information changes, I alter my conclusions. What do you do, sir?”

John Maynard Keynes

Seperti yang telah disampaikan di bagian awal tulisan, bahwa forecasting modern didasarkan pada alat analisis tertentu yang hanya dipelajari para pakar. Maka berbicara revolusi forecasting berbeda. Bahwa semua orang bisa melakukan forecasting. Bahkan, beberapa orang yang memiliki kemampuan alamiah terlahir sebagai superforecaster. Termasuk bagi mereka yang mau belajar langkah-langkah dasarnya, dan belajar dari kesalahan forecasting-nya yang lampau.

Sebelum membahas lebih mendalam, saya akan bercerita tentang orang kedua dalam buku Frieddman. Dia adalah seorang ekonom termahsyur, yang dalam istilah sederhana saya, sebut saja pakar lah. Namanya Irving Fisher.

Irving Fisher merupakan salah satu ekonom terbesar di dunia. Walaupun pendekatan Fisher dalam ilmu ekonomi tertanam kuat, banyak orang yang lebih mengingatnya karena satu hal. Bahwa dua minggu sebelum kejatuhan Wall Street pada Oktober 1929, Fisher dengan lantang berbicara “saham telah mencapai puncak dan sifatnya permanen”. Seperti yang kita tahu, cerita sebenarnya berbeda.

Pertanyaannya, bagaimana bisa seorang pakar seperti Fisher, yang merupakan pentolan ekonomi saat itu, yang menulis buku best-seller bisa memprediksi sesuatu hal yang fatal. Dengan kepakarannya di makro ekonomi dan statistika ekonomi, seharusnya Fisher bisa meraup keuntungan sebagai investor. Akan tetapi, kejatuhan pasar saham 1929 mengakhiri karirnya. Fisher meninggal dalam kondisi miskin.

Saat memberikan pernyataan publik tentang kondisi pasar. Dia tetap yakin bahwa kejatuhan pasar lebih besar karena faktor psikologi, atau panik dan kemungkinan besar akan kembali normal, ternyata tidak. Lebih fatal lagi, Fisher berulangkali mengeluarkan pernyataannya.

Dari kisahnya, kita dapat mengambil pelajaran. Bahwa kombinasi sikap terlalu optimis, percaya diri dan keras kepala dalam diri yang membuat kehidupannya makin surut. Fisher terjebak dalam logikanya sendiri, seperti pendapat Babson tentang dirinya, “Dia pikir dunia diatur oleh pikiran daripada perasaan, atau oleh teori daripada pola”.

Dalam pengalaman pribadi saya mendengar dan membaca pendapat kebanyakan para pakar studi strategis beberapa tahun belakangan ini. Tren gaya berpikir mereka (para pakar) cenderung mirip Fisher. Mengacu pada sejarah, tentu hal ini fatal!

Misalnya saja pada jenjang sarjana, ketika saya membaca pernyataan pakar dalam kasus Arab Spring. Beberapa terlalu yakin bahwa gelombang demokratisasi akan menghantam seluruh negara di Timur Tengah. Ternyata setelah beberapa tahun berjalan, justru tersendat-sendat di Suriah. Di beberapa negara malah cenderung ke rezim diktator (Mesir) atau chaos (Yaman). Atau pada jenjang pasca-sarjana, ketika saya mendengar komentar para pakar bahwa harga minyak bakal terus naik, kondisi ini berbahaya bagi ketahanan energi Indonesia, dan sebagainya, dan sebagainya. Faktanya harga minyak justru anjlok.

Tahun 2012, saya mulai melakukan korespondensi dengan beberapa kolega dari luar. Salah seorang dari Amerika Serikat menceritakan soal proyek besar yang telah berlangsung satu tahun. Disini pertama kali saya mengenal nama Philip Tetlock, dan membaca karya pertamanya yang berjudul Expert Political Judgement (2005).

Dalam buku ini, Tetlock mampu memberikan jawaban atas persoalan kepakaran yang saya pikirkan selama kuliah. Dari usahanya mengumpulkan analisis prediktif dari hampir 300 pakar, dengan total hampir 20 ribu prediksi yang terfokus di sektor politik dan geopolitik selama hampir 18 tahun. Ternyata, para pakar tersebut ialah forecaster yang buruk! Bahwa mereka belum mampu melihat masa depan.

Tahun 2015 proyek ini selesai, oleh kolega tadi saya dikirimkan sebuah buku via e-mail. Jika dalam Expert Political Judgement (2005), Tetlock terfokus mengurai permasalahan dalam konteks forecasting selama hampir satu dekade. Maka dalam buku kedua yang dikirim kolega saya, berjudul SuperForecasting (2015) keluar solusi atas permasalahan tersebut.

Memprediksi suatu peristiwa ternyata memungkinkan. Oleh beberapa orang yang disebut “superforecaster”, produk lain dari proyek besar tersebut selain buku kedua. Mereka dapat mempredikisi peristiwa geopolitik dengan akurasi yang tepat, bahkan mampu mempertahankan dan meningkatkan kemampuan.

Keberhasilan para superforecaster lebih dikarenakan sisi objektif dalam melihat masa depan, dan hal ini sangat jarang sekarang. Salah satu hal penting yang saya garis bawahi, bahwa mereka terbuka menerima feedback  tentang keberhasilan dan kegagalan setiap forecasting yang dihasilkan.

Ketika kita berbicara tentang masa depan, seringkali kita tidak berbicara tentang masa depan sepenuhnya, akan tetapi permasalahan-permasalahan hari ini. Kebanyakan pakar yang menyajikan pandangannya di media-media, entah tentang krisis Laut Cina Selatan, krisis Suriah, krisis Korea Utara atau soal serangan teroris di Paris dan Jakarta sebenarnya untuk mencari perhatian, mendukung sebuah tesis besar, atau mengikuti perspektif mainstream yang kadang tidak bisa dijelaskan. Seorang pakar yang muncul di siaran berita studio TV menawarkan prediksi dengan cara bincang-bincang. Seorang analis dari pemerintahan atau perusahaan kemungkinan mencoba untuk membenarkan keputusan yang telah diambil di awal, terlepas salah atau benar. Dan banyak dari prediksi soal pemilihan umum Presiden atau Kepala Daerah hanyalah bentuk lain dari dukungan terhadap satu pihak atau pihak lainnya.

Inilah potret industri forecasting selama hampir satu dekade. Dimana prediksi-prediksi tentang masa depan lebih dikemas dengan dangkal. Berupa iklan oleh lembaga-lembaga think tank dan konsultan. Atau percakapan satu sampai dua jam oleh para pakar di Televisi.

Seorang forecaster yang baik cenderung memiliki gaya berpikir “rubah”, bukan “landak”. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan gaya berpikir yang umum pada manusia: meluas daripada mendalam, intuitif daripada logis, dinamis daripada statis, dan asimetris daripada sistematis. Penjelasannya seperti ini, melalui sebuah quesioner Tetlock mengamati sikap partisipan proyek untuk menilai kesetujuan atau ketidaksetujuan mereka atas pernyataan “merubah pikiranmu ialah petanda kelemahan”. Ternyata forecaster yang baik tidaklah takut untuk merubah pikiran mereka, senang melihat perbedaan pendapat dan nyaman dengan penemuan bukti-bukti baru yang mungkin mengubah pemikiran lama menjadi pemikiran yang baru.

Masalahnya, yang Tetlock sebut sebagai “rubah” lebih dikenal buruk dalam industri forecasting. Mereka lebih buruk dari “landak” yang menggunakan sebuah metodologi, rangkaian logika berpikir yang terbukti kurang berguna untuk memprediksi hubungan internasional. Sebuah dunia yang terlalu kompleks untuk dijelaskan dengan satu kerangka berpikir logis.

Jika gaya berpikir “rubah” dan “landak” sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, lalu apa yang paling baik?. Berdasarkan proyek besar tersebut, Tetlock dan timnya menyadari bahwa gaya berpikir yang paling cocok untuk prediksi lebih baik, dalam psikologi disebut “berpikir terbuka secara aktif” yang dianalogikan sebagai gaya berpikir “capung”. Sebuah gaya berpikir yang mampu meluas dan mendalam, gabungan dari kelebihan dua gaya berpikir sebelumnya.

Jadi, apa saja rahasia untuk melihat ke masa depan? Mengacu pada hasil proyek tersebut ada beberapa langkah: Pertama, melatih penalaran kemungkinan. Kedua, melakukan kerjasama tim dalam melakukan forecasting. Ketiga, berpikir terbuka. Mengutip wawancara Tetlock di salah satu website, dia sendiri menyebutkan ada beberapa saran untuk melakukan forecasting yang baik. Saran-saran ini dirangkum dalam akronim CHAMP. Pertama, melakukan analisis perbandingan yang relevan (C); Kedua, melakukan analisis terhadap tren sejarah (H); Ketiga, memperhatikan pendapat orang lain, termasuk pakar; Keempat, menggunakan model matematika jika memang tersedia (M); dan Kelima, menganulir bias prediksi, jangan sampai harapan mempengaruhi prediksi.

LINGSTRA dan SuperForecasting

Sebagai lembaga think tank yang terfokus pada kajian strategis di sektor ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya (Ipoleksosbudhankam). Selain kekhususan melakukan analisis penilaian (assessment), baik penilaian ancaman (threat assessment) dan penilaian bersih (net assessment). Analisis prediktif (forecasting) juga menjadi kekhasan para penstudi di LINGSTRA.

Adapun modal dasar yang dimiliki LINGSTRA ialah komposisi para penstudi di dalamnya yang berasal dari sembilan program studi berbeda di Universitas Pertahanan, yaitu: Strategi Perang Semesta, Perang Asimetris, Damai dan Resolusi Konflik, Diplomasi Pertahanan, Manajemen Pertahanan, Ekonomi Pertahanan, Manajemen Bencana, Keamanan Maritim dan Keamanan Energi. Komposisi semacam ini menghasilkan kekayaan perspektif, kekayaan pemikiran dan kekayaan pendapat yang tidak banyak dimiliki oleh lembaga lainnya.

Selain itu, mempertimbangkan bahwa kebanyakan dari forecaster yang baik ialah mereka yang belum jadi atau bukan pakar. Para penstudi di LINGSTRA masih berstatus alumni baru dan mahasiswa pasca-sarjana aktif di Universitas Pertahanan. Gaya berpikir para penstudi di LINGSTRA belum seperti “landak” seperti yang dijelaskan Tetlock dan timnya, yaitu gaya berpikir yang sempit dan dalam. Sebuah gaya berpikir yang paling tidak direkomendasikan untuk melakukan forecasting. Melainkan lebih pada gaya berpikir “rubah”, yang cenderung luas dan dangkal. Hal ini merupakan modal besar bagi para penstudi di LINGSTRA untuk melakukan forecasting yang lebih baik dalam menyikapi isu-isu strategis yang muncul.

Dengan diskusi-diskusi mingguan yang diadakan LINGSTRA, serta forecasting yang selalu dilakukan setiap menyikapi kasus, bukan tidak mungkin beberapa dari para penstudinya memiliki gaya berpikir yang disebut Tetlock dan timnya seperti “capung”. Bahwa beberapa superforecaster yang muncul dalam proyek tersebut memiliki gaya berpikir yang luas dan dalam.

Melalui tulisan ini, saya ingin menekankan lagi jika ada yang bertanya tentang kekhasan lembaga think tank yang sedang kami rintis. Pertama, adalah assessment yang mungkin akan saya bahas di lain kesempatan. Kedua, adalah forecasting, dalam bentuk upgrade-nya yaitu super-forecasting. Harapannya, dengan kerendahan hati dan semangat akademis, produk-produk yang LINGSTRA hasilkan bisa berkontribusi untuk Indonesia yang lebih baik lagi.

 

Listening this article in english via lingstra podcast (beta version)

 
Posted on: April 16, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *