Sumber Energi: Daya Tarik Bagi Teroris

oleh:
Ida Bagus Aditya Wicaksono
Alumni Program Pascasarjana Manajemen Pertahanan UNHAN

Sulit membayangkan dunia saat ini tanpa energi. Penemuan-penemuan pada sumber-sumber energi, baik itu energi fosil, nuklir, hingga terbarukan[1] telah membawa manusia menuju abad baru di mana energi mempermudah kehidupan umat manusia di muka bumi. Alat-alat bantu manusia saat ini sebagian besar memerlukan energi untuk menjalankannya. Tetapi tidak semudah itu memanfaatkan energi yang ada untuk digunakan oleh seluruh umat manusia. Coba ingat pada sebuah prinsip ekonomi yaitu hubungan antara pasokan dengan permintaan yang ada atau dikenal dengan supply and demand. Sumber daya energi yang ada sangat terbatas tetapi permintaan begitu besar jumlahnya menjadikan energi sebagai barang ekonomi. Artinya energi dapat membantu manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya dan juga dapat diartikan sebagai barang ekonomi yang dapat membawa keuntungan finansial bagi manusia yang mengelolanya. Sebagai contoh dalam pasal 33 ayat 3 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia menjelaskan bahwa “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Ini menunjukkan bahwa kekayaan alam di mana sumber energi adalah salah satunya memiliki nilai penting bagi negara.

Memahami begitu berharganya sumber energi bagi kebutuhan manusia, aspek ekonomi bukan satu-satunya aspek yang kemudian berpengaruh pada pemanfaatan materi yang mendukung aktifitas umat manusia ini. Besaran manfaat dan pentingnya energi ini bagi manusia kemudian juga digunakan untuk kepentingan politik[2]. Keberadaan sumber minyak di Timur-Tengah telah membangun negara-negara teluk yang didominasi oleh lahan tandus berupa gurun memiliki suatu kekuatan untuk membuat suatu kebijakan global. OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Country) yang merupakan kumpulan negara-negara eksportir minyak memainkan peranan penting dalam menjaga kestabilan harga yang dipengaruhi oleh jumlah pasokan dan permintaan. Sekali lagi, dunia saat ini masih sangat bergantung dengan energi fosil walaupun sudah terdapat upaya untuk mengembangkan energi terbarukan dan juga energi nuklir, hanya saja biaya yang perlu dikeluarkan jauh lebih besar dibandingkan dengan energi fosil. Secara sederhana, fakta yang ada adalah masyarakat global jauh memperhitungkan harga sumber energi fosil salah satu nya minyak yang sangat berpengaruh pada segala bentuk aktivitas ekonomi dibandingkan dengan sumber energi lain.

Berkaca pada begitu bernilainya sumber energi tersebut, tentu menjadi perhatian bagi seluruh kalangan termasuk kelompok teroris. Sumber energi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di atas sarat akan kepentingan ekonomi hingga politik di dalamnya. Kepentingan kelompok teroris terhadap sumber energi ini sesungguhnya sudah ada sejak lama sebelum NIIS (Negara Islam Irak dan Suriah) melakukan serangan-serangan terhadap kilang-kilang minyak di Irak. Aksi-aksi serangan teror terhadap fasilitas sumber energi ini bukan berarti hanya melemahkan pasokan energi di negara yang bersangkutan. Serangan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris terhadap sumber energi dan menguasainya memiliki nilai politik dan ekonomi. Dari segi politik, serangan tersebut dapat diartikan bahwa negara yang bersangkutan tidak memiliki kemampuan untuk menjaga sumber energi nya. Arti lain yaitu negara tersebut dalam posisi terancam oleh gerakan teroris yang mana keberhasilan kelompok teroris tersebut memiliki arti suatu waktu dapat mengambil alih sumber daya yang dimiliki. Dengan mengendalikan sumber energi yang mana negara sangat bergantung pada hal tersebut maka ini dapat berarti suatu kemenangan besar bagi kelompok teroris[3]. Dari segi ekonomi, apa yang dilakukan NIIS dengan menjual minyak dari kilang-kilang di wilayah Irak yang di kuasainya memberikan contoh bahwa sumber energi khususnya minyak tidak hanya diperdagangkan secara legal. NIIS menjual minyak-minyak tersebut melalui pasar gelap yang hingga kini siapa pembelinya masih menjadi pertanyaan[4]. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa sumber energi yang memiliki nilai ekonomi memberikan peluang bagi teroris untuk memanfaatkannya. Beberapa kajian telah menunjukkan bahwa NIIS memiliki penghasilan yang besar dari sumber minyak yang dikuasainya[5]. Jika kajian-kajian tersebut terbukti maka NIIS dapat dikatakan sebagai kelompok teroris dengan sumber dana terbesar dibandingkan kelompok teroris lainnya. Jumlah dana yang besar dan didukung dengan sumber energi yang memiliki nilai ekonomi tinggi akan semakin mendorong NIIS untuk memperluas pengaruh dan wilayahnya ke depan. Memiliki sumber energi yang bernilai tinggi baik itu minyak atau energi nuklir, suatu kelompok teroris akan menjadi ancaman yang besar bagi stabilitas wilayah, karena tidak hanya politik, ekonomi, dan keamanan yang terkena imbasnya tetapi juga masalah ketahanan energi.

Referensi:

[1] Pembagian energi menjadi tiga kriteria yaitu energi fosil, nuklir, dan terbarukan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 30 Tahun 2007 Tentang Energi.

[2] Politik dalam hal ini sebagai tindakan yang dapat berpengaruh terhadap suatu kelompok. Dalam hal ini sumber daya energi sebagai alat untuk memainkan kepentingan politik.

[3] Andrew Critchlow, Opec Under Siege as ISIL Threaten Worlds Oil Lifeline, http://www.telegraph.co.uk/finance/newsbysector/energy/oilandgas/11638709/Opec-under-siege-as-Isil-threatens-worlds-oil-lifeline.html, diakses 21 Januari 2016.

[4] Carol Nakhle, ISIL sells its oil, but who is buying it?, http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2015/12/isil-sells-oil-buying-151206055403374.html, diakses 21 Januari 2016.

[5] Matthew Levitt, Here’s how isis still have access to global financial system, http://www.businessinsider.com/heres-how-isis-keeps-up-its-access-to-the-global-financial-system-2015-3?IR=T&r=US&IR=T, diakses 21 Januari 2016.

Andreas Becker, Who finance isis, http://www.dw.com/en/who-finances-isis/a-17720149, diakses 21 Januari 2016.

Saikat Pyne, Economics of terror-financial model of isis, http://www.businessinsider.in/Economicsof-Terror-Financial-model-of-ISIS/articleshow/48811725.cms, diakses 21 Januari 2016.

 

 
Posted on: December 9, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *