Oleh:
David Putra Setyawan, S.Kom, M.Si(Han)
Deputi Bidang Komunikasi dan Informasi Lingkar Studi Strategis.

Pendahuluan

ASEAN merupakan organisasi negara-negara Asia Tenggara yang dibentuk pada 8 Agustus 1967 oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Dalam perkembangannya beberapa negara seperti Brunei, Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam, ikut bergabung didalamnya. Sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh ASEAN beberapa diantaranya adalah percepatan pertumbuhan ekonomi, kerjasama sosial dan budaya antar anggota, perlindungan stabilitas keamanan di kawasan, aktif berkolaborasi antar negara anggota dalam kerjasama yang saling menguntungkan bagi kepentingan nasional di bidang ekonomi, sosial, budaya, teknik, ilmu pengetahun dan administrasi/birokrasi, saling menyediakan bantuan fasilitas latihan dan pengembangan di pendidikan, profesionalitas, lingkup teknis dan administratif.

Selama proses perkembangannya, hubungan antar negara anggota ASEAN mengalami pasang surut, sebagai contoh adalah perselisihan antara Indonesia dan Malaysia. Perbedaan latar belakang budaya, sejarah maupun sikap politik masing-masing negara merupakan beberapa faktor penyebab lambatnya perkembangan ASEAN pada awal perkembangannya. Namun, hal tersebut juga dipandang sebagai suatu proses pemahaman dan pengertian untuk menghilangkan rasa saling curiga antar negara anggotanya agar nantinya dapat bekerjasama untuk tujuan yang lebih baik. Dengan semakin meningkatnya peran ASEAN di kancah global serta untuk mentransformasikan ASEAN menjadi kawasan yang jauh lebih makmur, stabil dan berdaya saing tinggi, para pemimpin negara anggota mendeklarasikan Bali Concord II pada KTT ASEAN di Bali, Oktober 2003 untuk bersama-sama membentuk Komunitas ASEAN (ASEAN Community) yang ditargetkan pada tahun 2020. Namun pada KTT ke-12 ASEAN di Filipina, para pemimpin negara anggota menegaskan komitmen mereka untuk mempercepat dibangunnya komunitas ASEAN menjadi tahun 2015 dan menandatangani Deklarasi Cebu tentang Percepatan Pembangunan Komunitas ASEAN pada 2015.

Komunitas ASEAN sendiri meliputi tiga pilar utama, yaitu Political and Security Community, Economic Community, dan Socio-Cultural Community. Setiap pilar tersebut memiliki landasan / cetak birunya masing-masing yang terintegrasi secara bersama-sama dengan the Initiative for ASEAN Integration (IAI) Strategic Framework and IAI Work Plan Phase II (2009-2015) untuk mencapai tujuan bersama khususnya ASEAN Community 2009-2015. Secara garis besar, penjabaran masing-masing pilar adalah sebagai berikut:

  1. Political and Security Community, atau Pilar Komunitas Politik Keamanan bertujuan untuk mencapai perdamaian di kawasan dan tataran internasional dengan beberapa instrumen, yaitu zona bebas senjata nuklir di Asia Tenggara, deklarasi kawasan damai, bebas, dan netral, traktat persahabatan kerjasama Asia Tenggara, Komisi HAM antar pemerintah ASEAN, dan pengelolaan konflik Laut China Selatan.
  2. Economic Community, atau Pilar Komunitas Ekonomi yang bertujuan untuk mewujudkan integrasi ekonomi ASEAN menuju kemakmuran dengan empat basis karakteristik yang ingin diwujudkan, yaitu pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang kompetitif, pembangunan ekonomi merata, dan integrasi kedalam ekonomi global
  3. Socio-Cultural Community, atau Pilar Komunitas Sosial Budaya yang bertujuan untuk menjadikan masyarakat ASEAN saling peduli dan berbagi di bidang kepemudaan, wanita, kepegawaian, penerangan, kebudayaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, bencana alam, dll yang diwujudkan dengan sikap “We Feeling” dari seluruh warga ASEAN.

Dari penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa salah satu tujuan ASEAN Community adalah membentuk identitas tunggal sebagai warga ASEAN yang memiliki satu visi. Hal tersebut diharapkan mampu mengurangi berbagai konflik yang terjadi selama ini antar negara ASEAN melalui pilar Politik Keamanan. Selain itu, kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan juga semakin terbuka dengan adanya perdagangan bebas di bidang ekonomi. Dengan pangsa pasar yang semakin luas, tentunya akan meningkatkan daya jual sekaligus daya saing. Dan dengan adanya kerjasama di bidang sosial budaya, akan meningkatkan toleransi dan masyarakat yang beradab dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Namun yang menjadi pertanyaan, sudah siapkah Indonesia menghadapi ASEAN Community ini dengan segala keterbatasan maupun kelebihan yang dimiliki?

Sebagai negara demokrasi terbesar di ASEAN, tentunya Indonesia bisa menjadi pelopor kehidupan yang toleran dengan menyatukan keberagaman antar warga ASEAN. Akan tetapi, dengan adanya “ASEAN globalisasi” ini batas-batas negara maupun kedaulatan menjadi semakin kabur. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia untuk menjaga berbagai celah yang ada agar tidak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengacaukan stabiltas dan keamanan di dalam negeri. Dengan adanya pasar bebas ASEAN dimana setiap warga bisa bekerja, maupun berbisnis dengan skala yang lebih luas juga menimbulkan pertanyaan, sudah cukup mampukah SDM Indonesia untuk bersaing dengan SDM negara lain? Disisi lain, pemerintah Indonesia harus mampu meningkatkan rasa cinta akan budaya dan sejarah negeri sendiri, jangan sampai justru dengan adanya pertukaran budaya melalui ASEAN Community bangsa kita justru terjajah secara budaya dengan melupakan identitas bangsa.

 Analisis Teori Pilihan Rasional Indonesia dalam ASEAN Community 2015

Seperti yang telah digambarkan dalam penjelasan diatas, walaupun ASEAN Community menawarkan banyak peluang bagi Indonesia di berbagai bidang, namun juga terdapat tantangan dan ancaman didalamnya yang wajib dihadapi dan dicegah dalam rangka menjaga kepentingan nasional. Apakah dengan bergabungnya Indonesia dalam ASEAN Community ini akan memberi dampak yang positif di berbagai sektor akan dianalisis dengan menggunakan teori pilihan rasional sehingga dapat terukur cost dan benefit nya. Di sisi lain, dengan adanya kerjasama internasional di berbagai bidang, maka diplomasi akan memiliki peranan penting dalam berbagai lobi dan negosiasi yang akan digunakan untuk berbagai keperluan dalam rangka menjaga dan memenuhi kepentingan nasional. Di bidang pertahanan, perlu dipertimbangkan peran diplomasi sebagai bagian dari strategi pertahanan bangsa sehingga mampu mencegah berbagai konflik yang terjadi dalam menghadapi pasar bebas ASEAN yang melibatkan berbagai kepentingan individu maupun kelompok dengan masalah yang lebih kompleks.

Teori pilihan rasional merupakan instrumen mengenai maksud dan tujuan atau pilihan terarah dari negara untuk mencapai kepentingannya di lingkungan internasional. Dengan menggunakan teori ini, maka dapat dilihat gambaran mengenai kepentingan Indonesia dalam menjadi bagian dari ASEAN Community berdasarkan pertimbangan keuntungan maupun kerugian yang akan didapatkan sehingga dapat disimpulkan apakah pilihan pemerintah Indonesia dalam mengikuti ASEAN Community ini merupakan pilihan rasional.

Dengan bergabungnya Indonesia dalam ASEAN Community ini, tentunya infrastruktur di berbagai bidang perlu disiapkan oleh pemerintah. Perbaikan sistem birokrasi, infrastruktur transportasi perlu dilakukan sehingga dapat memperlancar jalannya arus perdagangan dan industri di bidang ekonomi. Kondisi Indonesia sebagai negara dengan SDA terbesar di kawasan ini tentu akan menarik banyak minat bagi negara-negara lain untuk mengolah dan mengambil keuntungan. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia wajib meningkatkan Sumber Daya Manusia Indonesia agar mampu meningkatkan daya saing dengan pihak asing melalui sektor pendidikan dan pengembangan mental melalui perbaikan sistem pendidikan. Jangan sampai kita terjajah secara ekonomi karena kurangnya kompetensi yang dimiliki anak bangsa. Di bidang keamanan tentunya perlu dipertimbangkan bagaimana kekuatan militer kita dalam menjaga kedaulatan bangsa. Walupun secara umum ASEAN Community merupakan sistem yang disepakati oleh aktor negara, bukan tidak mungkin hal ini dimanfaatkan oleh individu maupun kelompok yang menggunakan kesempatan ini untuk melakukan berbagai transaksi ilegal maupun tindakan terorisme yang dapat membahayakan keamanan nasional.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu mempersiapkan berbagai elemen masyarakat dalam menghadapi ASEAN Community ini untuk turut mengambil peluang dan menjaga NKRI dari berbagai ancaman. Hal tersebut sesuai dengan pengertian Sistem Pertahanan Negara yang tertuang pada Pasal 1 Angka 2 UU Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara yang mengandung pengertian: sistem pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Lebih jauh, pemerintah perlu mempersiapkan langkah-langkah diplomasi yang akan digunakan dalam menangani berbagai konflik maupun lobi internasional. Sehingga dapat meminimalisir terjadinya konflik, maupun biaya yang tidak perlu. Sinergi antara peran diplomasi dengan pertahanan negara sangat diperlukan agar mampu menjaga kepentingan nasional. Hal tersebut dapat dilihat pada pengertian Diplomasi pertahanan yang merupakan upaya mengamankan kepentingan nasional di bidang pertahanan dalam kerangka hubungan internasional yang dapat meliputi isu kedaulaan, teritorial, peningkatan kapasitas, lobi pembelian alutsista, pengamanan keamanan wilayah, perundingan dalam konteks bilateral, regional dan multilateral di bidang pertahanan dan keamanan.

Gambaran tersebut tentu merupakan Cost yang harus diupayakan pemerintah Indonesia dalam menghadapi ASEAN Community tahun 2015. Namun, jika dilihat secara lebih luas berbagai upaya itu juga secara tidak langsung “memaksa” pemerintah Indonesia untuk memperbaiki sistem yang ada di berbagai sektor. Tentunya, pemerintah Indonesia tidak mau dipandang remeh dalam kancah internasional khususnya kawasan ASEAN karena tidak sanggup mengatasi masalah-masalah yang sederhana. Secara tidak langsung, peningkatan profesionalitas manusia Indonesia akan meningkat dengan adanya interaksi secara global. Pola pikir yang jauh lebih “internasional” dan sudut pandang yang lebih luas akan dimilik SDM kita. Dengan adanya perdagangan bebas, kesempatan pemerintah Indonesia untuk mendorong masyarakat meningkatkan kesejahteraan untuk menunjang perekonomian bangsa juga jauh lebih besar. Di bidang pertahanan dan keamanan, perlu dipahami bahwa kondisi keamanan global diwarnai oleh meningkatnya intensitas ancaman keamanan asimetris dalam bentuk ancaman keamanan lintas negara. Aksi perompakan, penyelundupan senjata dan bahan peledak, penyelundupan wanita, perdagangan narkoba, pelanggaran wilayah, dll merupakan isu yang menonjol beberapa dekade ini. Dengan adanya ASEAN Community, pemerintah Indonesia mampu memanfaatkan kerjasama antar negara dalam meminimalisir masalah tersebut dengan sikap saling keterbukaan antar negara seperti yang tertuang dalam salah satu pilar ASEAN Community yaitu Political and Security Community. Beberapa hal inilah yang merupakan benefit bagi pemerintah Indonesia untuk turut serta dalam ASEAN Community 2015.

Kesimpulan

Berdasarkan pertimbangan cost dan benefit, adalah pilihan yang rasional bagi pemerintah Indonesia untuk ikut serta dalam ASEAN Community. Indonesia sebagai salah satu penggagas berdirinya ASEAN tentunya tidak ingin dikucilkan dalam dunia internasional karena tidak ambil bagian dalam ASEAN Community. Di sisi lain, walaupun biaya dan upaya pemerintah Indonesia untuk mempersiapkan infrastruktur dan SDM akan besar dan sulit, namun hasil dari upaya tersebut akan turut serta membantu pemerintah Indonesia dalam mewujudkan kepentingan nasionalnya. Hal tersebut sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia dalam Pembukan UUD 1945 yang bertujuan untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pada akhirnya, aktualisasi dari perwujudan kepentingan nasional tersebut adalah pelaksanaan politik luar negeri Indonesia untuk ikut serta dalam ASEAN Community 2015.

 

Daftar Pustaka

ASEAN.org. (n.d.). ASEAN Overview. Retrieved Oktober 31, 2014, from http://www.asean.org/asean/about-asean/overview

Departemen Pertahanan Republik Indonesia. (2008). Buku Putih Pertahanan Indonesia. Jakarta: Departemen Pertahanan Republik Indonesia.

Fransisca. (2013, Agustus 22). Mengenal Komunitas ASEAN dan Bagaimana Blogger Berperan di Dalamnya. Retrieved Oktober 31, 2014, from http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/08/22/asean-in-your-hand-komunitas-asean–585695.html.

Gihartono, J. I. (2013). Komunitas ASEAN dan Kekuatan Masyarakatnya: Menjawab Tantangan Zaman. Buletin Komunitas ASEAN.

Soenanda, M. A. (n.d.). Kepentingan Nasional Indonesia Di Dunia Internasional. Retrieved November 1, 2014, from http://ditpolkom.bappenas.go.id/?page=news&id=31

Suruji, A. (2011, Mei 7). Menjadi Komunitas ASEAN. Retrieved Oktober 31, 2014, from http://nasional.kompas.com/read/2011/05/07/04194912/Menjadi.Komunitas.ASEAN.

Waltz, S. M. (1999). Rigor or Rigor Mortis? Rational Choice and Security Studies. MIT.

Yani, Y. M. (2014). Power Point Mata Kuliah: Foreign Policy. Sentul, Jawa Barat, Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>