Oleh:
Denny Indra Sukmawan
Deputi Kajian Strategis Lingkar Studi Strategis

Umumnya banyak khalayak yang percaya bahwa kenaikan harga minyak selalu berhubungan dengan geopolitik di Timur Tengah. Tesis tersebut memang benar adanya, sejarah mencatat bahwa kenaikan harga minyak beriringan dengan konflik-konflik seperti Krisis Suez, Perang Arab-Israel, Revolusi Iran, Perang Teluk I dan II. Selain itu faktanya 30 persen dari total produksi minyak dunia berasal dari Timur Tengah

Melihat Timur Tengah dalam kurun waktu 6 bulan belakangan, tesis tersebut seperti diuji keabsahannya. Dipikir-pikir lagi, instabilitas di Timur Tengah sedang mencapai momentumnya. Sudah beberapa dekade tidak se-chaos ini. Terhitung sejak Arab Spring, yang berlanjut pada krisis Suriah, sampai kemunculan ISIS di sebagian wilayah Irak dan Suriah. Interaksi antara kekuatan-kekuatan besar (great powers) semakin dinamis, berujung pada meningkatnya tensi politik antar negara. Rentetan peristiwa seperti intervensi militer Arab Saudi ke Yaman, aksi teror di Paris, penembakan jatuh Pesawat Rusia di Mesir dan Turki, dan terakhir serangan massa di Kedutaan Arab Saudi di Teheran.

Hitung-hitungan sederhana, setidaknya ada lima kekuatan besar  yang bergumul di Timur Tengah, yaitu Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Turki, Arab Saudi dan Iran. Ditinjau dari faktor produksi minyak saja, gabungan antara Rusia, Arab Saudi dan Iran mencapai 30% dari total produksi dunia. Adapun dilihat dari faktor jalur suplai minyak, potensi konflik antara Turki-Rusia dan Saudi-Iran bisa mengganggu suplai minyak ke Asia-Pasifik, Afrika Eropa Barat dan Amerika Utara sekaligus, dengan potensi sebesar hampir 1000 juta ton barrel setiap tahun kedepannya.

Lalu pertanyaannya, mengapa harga minyak tidak kunjung naik? Justru sebaliknya, tren harga terus turun. Bahkan dalam laporan terbarunya, IMF menyebutkan harga minyak bisa mencapai 15 dollar per barel!. Sungguh berbeda dengan dua atau tiga tahun lalu.

Selama satu tahun terakhir, kita baru melihat aksi dari satu atau dua great powers saja. Kebijakan Amerika Serikat untuk membanjiri pasar dengan shale oil produksi sendiri dan keputusan Arab Saudi menolak memangkas produksi minyak mereka terbukti mampu mengisolasi perekonomian Rusia setelah melakukan aneksasi di Krimea. Bahkan sampai memaksa Iran untuk melakukan kompromi atas kepemilikan nuklirnya.

Justru sebaliknya, dengan asumsi hanya melihat faktor geopolitik sebagai pemicu. Menurut  penulis harga minyak kemungkinan besar naik sampai satu kali lipat dari harga yang sekarang, terhitung empat sampai enam bulan dari sekarang. Jika skenario-skenario dibawah berjalan, terutama reaksi dari great powers yang lain.

ISIS

Faktor utama yang menentukan harga minyak adalah dinamika penawaran dan permintaan pasar. Berdasarkan laporan beberapa sumber, salah satu penyebab melimpahnya minyak selama setahun terakhir adalah suplai dari ISIS melalui pasar gelap. Mempertimbangkan tren koalisi pasukan Irak-NATO-Rusia-negara-negara Arab mampu menekan ISIS sampai ke wilayah-wilayah strategisnya. Penulis melihat ISIS mampu dikalahkan pada tahun ini, walaupun residu-residunya masih ada. Konsekuensi dari hal tersebut adalah wilayah-wilayah produksi minyak mereka kembali dikontrol oleh Irak. Suplai berlebihan ke pasar pun mampu dikurangi secara perlahan.

Rusia-Turki

Jalur utama minyak dari negara-negara Teluk ke Jepang dan Eropa Barat salah satunya melintasi Turki dan negara-negara Kaukasus di sebelah Barat Laut Kaspia. Adapun pengaruh Rusia di negara-negara Kaukasus tersebut masih cukup besar. Dengan skenario tensi politik antara Rusia-Turki dan Saudi-Iran berpengaruh satu sama lainnya. Kemungkinan besar Rusia bisa mengancam untuk menutup jalur suplai tersebut. Dampaknya adalah pasokan minyak sebesar 250 juta ton barel per tahunnya bisa terganggu. Ketegasan Rusia bisa diprediksi dengan mempertimbangkan sikap mereka selama terlibat ketegangan diplomatik dengan Georgia dan Ukraina beberapa tahun lalu.

Saudi-Iran

Dengan skenario terburuk kedua negara ini sampai terlibat konflik bersenjata, kemungkinan besar harga minyak akan melambung tinggi sampai dua atau tiga lipat. Gabungan produksi dari Saudi-Iran mencapai 17% dari total produksi dunia dengan pangsa pasar utama adalah negara-negara konsumen minyak terbesar di dunia, termasuk China dan Amerika Serikat. Skenario lainnya adalah jika Iran sampai mengancam untuk menutup Selat Hormuz seperti pada 2012 lalu, dalam kasus ini hanya untuk kapal-kapal Tanker milik Saudi. Setidaknya potensi suplai minyak ke negara-negara Asia-Pasifik terganggu sampai 450 juta ton barel setiap tahunnya.

Minyak dari Kawasan lain

Jika skenario-skenario tersebut terjadi kedepannya, salah satu alternatif dari negara-negara konsumen adalah mengalihkan suplai ke ke kawasan-kawasan lain seperti Eurasia, Eropa Utara, Amerika Utara dan Amerika Selatan. Menurut penulis, alternatif ini pun tidak mampu menahan kenaikan harga minyak. Alasannya, dari kapasitas produksi negara-negara di kawasan tersebut mungkin hanya Amerika Serikat yang mampu melakukan suplai dalam jumlah besar. Akan tetapi tetap saja tidak mampu menutupi kekosongan ratusan juta ton barrel dari Saudi-Iran-Rusia. Selain itu, pertimbangan faktor teknis bahwa minyak-minyak mentah dari Timur Tengah lebih “dikenal” oleh sebagian besar kilang minyak di negara-negara dunia.

Pada akhirnya analisis ini hanya sekadar prediksi. Dasarnya pun hanya dengan pertimbangan faktor geopolitik. Jangan terlena dengan harga minyak saat ini. Faktor geopolitik selalu berpengaruh besar terhadap harga minyak. Jika kondisi (environment) ekonomi dan politik selalu berubah, dan bersifat dinamis. Begitu juga dengan harga minyak, bisa tiba-tiba melambung satu atau dua tahun kedepan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>