Oleh:
Denny Indra Sukmawan
Deputi Riset dan Kajian Strategis LINGSTRA

Andaikan pilpres di Amerika Serikat berlangsung 1-3 bulan lagi. Maka penulis memprediksi Donald Trump-lah yang akan menang. Nama ini tidak muncul tiba-tiba setelah perenungan panjang, melainkan dari analisis berbasis langkah-langkah super-forecasting. Sebuah metode forecasting terbaru yang dirumuskan melalui proyek Good Judgement (2011-2014).

Beberapa hal mendasar dalam metode  super-forecasting seperti yang penulis rangkum dari buku Superforecasting: The Art and Science of Prediction (2015) ialah: Pertama pragmatis, dalam pengertian bebas nilai atau agenda, hanya berdasar fakta yang ada. Kedua terbuka (open-minded), maksudnya mau mempertimbangkan pandangan-pandangan lain. Ketiga sintesis, yakni menarik analisis atas tesis dan anti tesis yang muncul di publik. Keempat asimetris, dimana kesimpulan yang muncul didasarkan pada kemungkinan-kemungkinan dan atau skenario. Kelima dinamis, yaitu ketika fakta-fakta berubah demikian halnya dengan analisis.

Fakta dan Opini

Mengutip laporan Associated Press (2015) soal pemilihan pendahulu di seluruh negara-negara bagian. Dalam kampanye di Partai Republik, Donald Trump terhitung telah menang empat kali dan sedang unggul di sembilan negara bagian. Sementara ini Trump unggul dengan 384 suara, berturut-turut Ted Cruz (300 suara), Marco Rubio (151 suara) dan John Kasich (37 suara).

Adapun di Partai Demokrat, Hillary Clinton telah menang dua kali dan sedang unggul di sembilan negara bagian. Berbeda dengan Trump yang melawan tiga kandidat, Hillary (1130 suara) cukup jauh melampaui Bernie Sanders (499 suara) yang merupakan satu-satunya lawan.

Bagi kebanyakan pakar dan figur politik di Amerika, Donald Trump seperti malapetaka. Pada 2 Maret 2016 kemarin, sebanyak 117 orang menandatangani surat terbuka untuk Trump. Isinya kurang lebih menyebutkan bahwa visi politik luar negerinya tidak konsisten, awalnya mengisolasi tetapi selanjutnya mengembara. Lalu pernyataannya soal perang dagang bisa berdampak terhadap kekacauan ekonomi di seluruh dunia. Yang paling menuai banyak kecaman misalnya soal retorika anti muslim dan imigran ilegal dari Meksiko.

Ke-117 orang yang menandatangani surat tersebut bukanlah orang-orang biasa. Pertama, tidak biasa karena semuanya merupakan republiken. Lalu yang kedua, semua nama tersebut bukan sembarangan. Beberapa yang terkenal seperti Eliot Cohen, mantan konsultan Departement of State (2007-2008). Robert Zoellick, mantan Presiden Bank Dunia dan pernah menjabat Deputi Sekretaris Negara. Lalu Michael Chertoff, mantan Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri. Dov S Zakheim, pejabat senior Pentagon. David Shedd, mantan pejabat CIA dll.

Tesis, Anti Tesis dan Sintesis

Menyimak beberapa pernyataan kontroversial Trump, pada satu sisi ialah musuh kemanusiaan. Dia menyebut imigran Meksiko sebagai pembawa masalah. Lalu dia bakal menutup akses masuk bagi umat muslim ke Amerika Serikat karena kebencian sebagian besar rakyat Amerika terhadap muslim. Sebelumnya Trump juga pernah berkomentar soal besaran pajak untuk mobil-mobil Jerman dan Jepang. Lalu akan mengusir pekerja Ebola dan mengembalikan metode waterboarding untuk keperluan interogasi.

Di sisi lain pernyatan-pernyataan Trump bagi pendukungnya, terutama kaum Republikan adalah harapan. Melihat kondisi nyata di Amerika Serikat selama ini, imigran Meksiko memang tidak lepas dari kasus-kasus narkotika, kriminalitas dan pemerkosaan. Lalu soal umat muslim, bagaimanapun juga survei yang dilakukan Pew Research menyebutkan besarnya kebencian sebagian besar rakyat Amerika terhadap umat muslim.

Terkait mobil Jerman dan Jepang, memang selama ini Ford kalah bersaing dengan Mercedes atau Toyota. Tentang pekerja Ebola dan waterboarding, Trump beretorika bahwa Virus Ebola adalah ancaman, dan di Timur Tengah selama ini banyak tentara Amerika yang dipenggal kepalanya oleh Al-Qaeda dan ISIS.

Dan Trump dengan tegas dan konsisten memang tidak menyukai hal-hal tersebut, apapun yang dianggapnya secara faktual mengancam bangsa Amerika. Setidaknya hal ini menjadi salah satu simpulan penulis setelah melakukan riset kecil-kecilan soal komentar dan pernyataan kontroversialnya dari 1990-an sampai sekarang.

Mengutip Peter Luntz (2016) salah seorang think tank Partai Republik, bahwa Trump adalah satu-satunya kandidat yang mampu menyatakan jelas apa yang dia maksud, dan jelas bermaksud melakukan apa yang dia telah katakan. Dan selama 8 tahun kebelakang, pemilih Republik memang sedang mencari sosok pemimpin yang karakternya merupakan antitesis Barack Obama. Ternyata ada di seorang Donald Trump yang cenderung tidak tenang, mudah marah dan kasar.

Asimetris

Sampai saat ini penulis yakin bahwa dua kandidat yang kemungkinan besar bertarung dalam Pilpres Amerika Serikat tahun ini adalah Donald Trump dari Partai Republik dan Hillary Clinton dari Partai Demokrat. Mengacu pada retorika di depan publik selama ini, Trump kemungkinan besar menjadi Presiden jika mampu memainkan pernyataan kontradiksi internal (menyerang satu pihak di dalam negeri) dan eksternalnya (menyerang beberapa pihak di luar negeri) dengan lebih dinamis.

Pertama, konsisten mengeluarkan pernyataan ofensif tentang kondisi sosial dan ekonomi di Amerika yang menjadi tanggung jawab rejim Obama. Menurut penelitian yang dilakukan Pew Research (2015), Rakyat Amerika dengan persentase 24% menganggap kondisi ekonomi memburuk, lalu berturut-turut sebesar 57% menganggap pekerjaan masih sulit dicari, 55% menganggap pendapatan masih berada dibawah biaya hidup dan 65% menganggap ketimpangan ekonomi meningkat, khususnya antar etnis.

Kedua, memperluas lingkup pernyataan ofensif terhadap aktor-aktor di luar Amerika, tidak hanya terhadap Islam dan Meksiko, namun juga ke Tiongkok dan Rusia. Selama ini Trump hanya frontal terhadap Islam dan Meksiko dengan dalih terorisme dan imigran. Padahal potensi ancaman  dari Rusia dan Tiongkok yang dirasakan publik di Amerika Serikat tidak kalah besar.

Mengacu pada penelitian Gallup (2015), rakyat Amerika masih menganggap kekuatan militer  Rusia sebagai ancaman penting dalam 10 tahun terakhir (persentase 50%). Hal ini diperkuat bahwa mereka (persentase 54%) tidak setuju dengan campur tangan negaranya di Krimea. Lalu setuju dengan pengurangan senjata nuklir antara kedua negara (persentase 82%). Terlebih persepsi soal Tiongkok, mengacu pada penelitian Pew Research (2015) sebagian besar rakyat Amerika menganggap isu-isu seperti hutang, hilangnya pekerjaan dan serangan siber yang terkait Tiongkok sebagai hal yang sangat serius.

Jika Trump mampu memainkan pola kontradiksi internal dan eksternal dalam setiap pernyataannya dengan lebih cerdas. Maka mimpinya menuju Gedung Putih menjadi kenyataan.


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>