Tentang Pilkada DKI Jakarta 2017
“Siapa yang bakal menang dalam Pilkada nanti?”

Denny Indra Sukmawan
Deputi Kajian Strategis, Lingkar Studi Strategis
denny.sukmawan@lingstra.org

Pertanyaan macam ini sering diajukan rekan-rekan saya. Sampai tulisan ini dibuat, jawaban saya masih konsisten bahwa Calon 2 kemungkinan besar akan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Lebih mendalam lagi, jika pertanyaannya perihal calon mana yang saya dukung, maka saya jawab Calon 1. Akan tetapi jika pertanyaannya perihal calon mana yang saya prediksi menang, maka saya akan jawab Calon 2.

Mohon para pembaca tidak kebingungan dengan jawaban ini. Saya punya berbagai alasan subjektif mengapa mendukung Calon 1. Termasuk berbagai alasan objektif mengapa memprediksi Calon 2 sebagai pemenang Pilkada DKI 2017. Kilas balik beberapa tahun lalu, jawaban saya soal Pilkada DKI mirip-mirip dengan jawaban soal Pemilu Presiden Indonesia pada 2014 lalu. Dulu saya memprediksi Bpk. Joko Widodo akan menjadi Presiden, akan tetapi saya mendukung Bpk. Prabowo Subianto.

Haruslah dipahami keluarnya jawaban macam ini ialah bentuk sikap yang coba melihat masalah dengan lebih objektif. Jawaban macam ini, di satu sisi memperlihatkan bahwa saya tidak bisa mendukung seseorang tanpa melepaskan subjektivitas yang melekat di dalam diri. Di sisi lain saya bisa memprediksi dengan lebih akurat tentang siapa-siapa yang bakal menang dan apa-apa yang bakal terjadi –tentu dengan objektivitas yang tinggi.

Kembali ke tujuan esai kali ini, saya tidak membahas alasan subjektif perihal dukungan terhadap Calon 1. Melainkan alasan objektif perihal Calon 2 yang saya prediksi akan menang. Ya, mengapa Calon 2 yang menang? Apa alternatif strategi yang terbaik untuk mengalahkan mereka? Termasuk apa saja konsekuensi logis dari kemenangan mereka kelak bagi Indonesia?

Saya mulai dengan melihat dinamika lingkungan strategis pada tingkatan global dalam beberapa tahun terakhir. Entah ditulis kedalam opini, atau digambar kedalam grafik, kita bakal sepakat tentang kebangkitan gaya politik populisme sayap kanan yang  di seluruh dunia. Dari tinjauan literatur, kita bakal mengetahui kebangkitan gaya politik macam ini terutama karena kebanyakan pemimpin (eksis) tidak mampu memberi bukti kepada orang-orang yang dipimpin –atau pemilih perihal janji-janji kampanye politik di masa lalu. Sedangkan sebagian besar pemilih makin “melek” dengan kondisinya –bisa terjadi karena pengaruh besar revolusi teknologi dan informasi. Bilamana kehidupan menjadi lebih baik maka pemilih kemungkinan besar akan kembali memilih pemimpin (eksis) tersebut, menerima kelanjutan. Jika sebaliknya maka pemilih kemungkinan besar akan beralih ke pemimpin (alternatif) lain, menuntut perubahan.

Tren yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, hampir semua pemimpin alternatif merunut gaya politik populis, ditandai dengan retorika-retorika politik yang saya sebut “realis-pragmatis” dan “logis dan rasional”, karena mereka mampu dengan efektif melakukan eksploitasi terhadap persepsi ancaman dan rasa ketakutan terhadap pemilih. Persepsi dan perasaan ini bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, pun dilihat dan didengar setiap hari. Adapun pemimpin eksis cenderung berperilaku sebaliknya, dengan retorika-retorika politik yang “idealis-utopis” dan cenderung “tidak logis dan tidak rasional”. Kita melihat contoh nyata di Eropa dan Amerika Serikat, jika “bersama-sama” tiada menguntungkan malah lebih merugikan, maka lebih baik kita “berpisah”. Inggris keluar dari Uni Eropa, Amerika keluar dari Kerjasama Trans-Pasifik.

Tren yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, sayangnya retorika politik macam ini lebih mudah diterima oleh pemilih. Terlebih mereka dalam kondisi lebih “logis dan rasional” oleh karena lebih dekat dengan informasi –melalui internet dan gadget di tangan. Kemudian tingkat pendidikan mereka tergolong menengah ke tinggi. Pemilih macam ini menurut saya, lebih “melek” informasi dan tentu saja lebih “melek” politik.

Kondisi lebih “melek” informasi merupakan keluaran dari suatu proses. Dari yang awalnya tidak mendapat informasi, kemudian mendapat sedikit-sedikit informasi, sampai mendapat informasi sebanyak-banyaknya. Lebih dalam lagi dalam fase yang terakhir, mereka “menguyah” hampir seluruh informasi yang diterima, sampai pada akhirnya memilah informasi-informasi mana yang diterima untuk “dikunyah”. Keluaran pilihan mereka pada akhirnya lebih objektif, lebih logis, lebih rasional –menimbang untung rugi dan tentu saja melihat bukti. Menimbang revolusi informasi dan teknologi yang telah berlangsung selama satu dekade terakhir, saya menyadari kita sedang menuju fase puncak, bahwa manusia tidak lagi sekadar mendapat informasi sebanyak-banyaknya, melainkan perlahan memilah informasi-informasi mana yang diterima untuk “dikunyah”.

Adapun kondisi lebih “melek” politik merupakan konsekuensi dari proses “melek” informasi tadi. Dari yang awalnya mereka cenderung statis dan tidak terlalu partisipatif, kemudian lebih dinamis lagi sampai-sampai terlalu partisipatif, sampai kembali ke kondisi setimbang antara statis dan dinamis, yaitu berpartisipasi sesuai tingkatan “logis dan rasional” mereka.

Tidak hanya di Eropa dan Amerika Serikat, saya melihat tipe pemilih macam ini –logis, rasional dan lebih “melek” cukup banyak jumlahnya di Jakarta. Selain karena sesuai dengan kondisi objektif di lingkungan strategis, jumlah pemilih macam ini telah dipetakan melalui survei yang dilakukan beberapa Lembaga Riset dan Konsultan Politik Nasional baru-baru ini (Januari 2017). Silakan baca artikel Tempo yang terbaru (28 Januari 2017) berjudul “Enam Lembaga Rilis Hasil Survei Pilkada DKI”, kemudian fokus pada pada persentase swing voters. Ya! bukan persentase kandidat, melainkan persentase swing voters-nya, rata-rata berkisar antara 10-30%.

Maka dengan menimbang fakta kemenangan Trump di Amerika Serikat dan kemenangan kelompok kontra-Uni Eropa dalam referendum Brexit, akan terulang lagi perihal sama dalam Pilkada DKI Jakarta. Bahwa pemilih “logis dan rasional” cenderung memilih untuk bersembunyi, oleh karena karena mereka “lebih melek” politik –sadar suaranya yang berharga dalam pemilihan, sadar suaranya yang dapat mempengaruhi opini publik bahkan sebelum pemilihan dimulai. Sambil bersembunyi, mereka menimbang-nimbang, entah  menimbang untung dan rugi perihal kinerja pemimpin eksis terhadap kehidupan mereka selama ini, menimbang rasio antara cita-cita yang ditawarkan pemimpin alternatif dengan kemungkinan kondisi mereka di masa depan –apakah lebih baik atau sebaliknya. Mereka dapat menilai dan mengukur kedua hal tersebut melalui observasi langsung kondisi di sekitar tempat tinggal mereka, atau dengan “mengunyah” limpahan informasi dari media dan internet. Mulai dengan membaca berita seputar Pilkada DKI Jakarta, menonton channel-channel di youtube seputar kandidat yang bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta, sampai mendengar pendapat pakar dan tokoh-tokoh masyarakat baik di Televisi maupun ruang publik. Akan tetapi tidak ada dari hal-hal tadi yang berpengaruh sebesar tontonan Debat Kandidat yang disiarkan langsung di Televisi dan dapat ditonton lagi di youtube.

Para pembaca, dengan menonton kembali Debat Kandidat Pilkada DKI 2017 yang diadakan tiga minggu belakangan. Tidak hanya saya –para pemilih “logis dan rasional” pun dapat dengan mudah memetakan calon-calon pemimpin mana yang tergolong “realistis-pragmatis” dan “idealis-utopis”. Dengan melihat retorika setiap calon ketika menyampaikan gagasan-gagasannya kepada publik, gaya berbicara setiap calon ketika berusaha menyakinkan publik, termasuk respon satu per satu calon ketika diserang secara “verbal” oleh calon lain. Kemudian membandingkan dengan dinamika hasil survei langsung terhadap media sosial yang ditampilkan selama Debat Kandidat di Televisi, termasuk dinamika hasil survei pasca Debat Kandidat yang dirilis beberapa lembaga riset dan konsultan politik –misalnya Kompas (09/02/2017). Maka benarlah bahwa pemilih-pemilih “logis dan rasional” ini terpengaruh dengan Debat Kandidat. Dengan tesis utama esai ini bahwa pemenang Pilkada adalah calon yang retorikanya paling “realistis-pragmatis” karena lebih diterima sebagian besar pemilih yang juga “realistis-pragmatis”, saya memprediksi calon 2 akan memperoleh persentase suara terbesar, disusul calon 1 dan calon 3.

Prediksi tetaplah prediksi, seakurat-akuratnya masih ada kemungkinan untuk salah. Pertanyaannya kemudian, bilamana prediksi saya terhadap kemenangan calon 2 bisa meleset? Diantara berbagai strategi yang memungkinkan untuk diterapkan dalam “medan” Pilkada DKI Jakarta 2017. Saya lebih memilih strategi untuk mengubah atau merekayasa kondisi “logis dan rasional” para pemilih yang daritadi telah dijelaskan dalam esai ini, menjadi kondisi “emosi dan irasional”. Bahasa sederhananya, buatlah pemilih-pemilih di Jakarta ini lebih memilih dengan dasar “kebencian”, dengan persepsi “ketakutan” yang tidak mendasar.

Salah satu yang menurut saya paling mudah dan efektif dilakukan sekarang tentu saja dengan mengeksploitasi isu penistaan religi yang didakwakan kepada calon 2, selain itu tentu saja mengeksploitasi isu kebangkitan ideologi yang terkait erat dengan salah satu bangsa di utara jauh. Jika strategi ini dilakukan dengan benar dan konsisten, maka prediksi saya bakal meleset. Bahasa sederhananya, buat pemilih-pemilih ini lebih “religius” dan “ideologis” sampai mencapai spektrum radikal. Sebaliknya jika tidak dilakukan dengan benar dan konsisten, maka prediksi saya tidak akan meleset, calon 2 akan menang dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>