oleh:
Bill Hardi
Anggota Dewan Ahli Pusat Studi Peperangan Asimetris UNHAN

Pada saat kita melakukan pembahasan tentang jihad dan terorisme dari pespektif Islam, bisa dipastikan, kita akan menemukan dikotomi yang cukup kontras pada tataran diskursus keduanya. Sebagian ahli berpendapat, bahwa keduanya memiliki relasi kausalitas yang saling terkait. Sedang sebagain lainnya berpendapat bahwa keduanya tidak memiliki hubungan tersebut. Kelompok yang disebut belakangan ini menyatakan bahwa telah terjadi distorsi terhadap pemaknaan, utamanya dalam kata jihad. Distorsi pemaknaan ini terjadi dikarenakan adanya pemahaman yang tidak komprehensif serta minim refleksi terhadap konteks nash-nash Qur’an dan hadist yang menjadi rujukan. Pertanyaannya kemudian, bagaimanakah sesungguhnya Islam memaknai jihad? Dan bagaimana Islam memandang permasalahan terorisme? Guna menjawab dua pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita harus mengupas arti kata dan makna jihad serta terorisme itu sendiri.
Kamus Arab-Indonesia al-Munawir karangan Ahmad Warson Munawir mengartikan jihad sebagai “Kegiatan mencurahkan segala kemampuan”. Sehingga jihad diartikan sebagai perjuangan (Ahmad Warson Munawir, 1984: 66). Ibn Manzhur dalam Lisan al-Arab sebagaimana dikutip Muhammad Chirzin menyebutkan bahwa jihad ialah “Memerangi musuh, mencurahkan segala kemampuan dan tenaga berupa kata-kata, perbuatan atau segala sesuatu semampunya”. Sedangkan Hans Wehr dalam A Dictionary of Modern Written Arabic, mengartikan jihad sebagai “Fight, battle, holy war (against the infidles as a religious duty)”, yang artinya perjuangan, pertempuan, perang suci melawan musuh-musuh sebagai kewajiban agama (Muhammad Chirzin, 2004: 12).

Azyumardi Azra memberikan pengertian bahwa jihad berarti “Mengerahkan kemampuan diri sendiri dengan sungguh-sungguh”. Di dalam bahasa Inggris disebut sebagai to exert oneself yaitu ‘melakukan usaha keras untuk mencapai tujuan-tujuan yang baik dan disetujui agama yang sesuai dengan ajaran-ajaran agama seperti membangun kesejahteraan bagi umat manusia’. Lebih lanjut Azra menyebutkan bahwa jihad dapat dilakukan dalam bidang apa saja seperti menuntut ilmu ke negeri yang jauh atau di negeri sendiri dengan bersungguh-sungguh. Orang yang menuntut ilmu itu pun disebut orang yang berjihad di jalan Allah, disebut jihad fisabilillah (Azyumardi Azra, 2000: 14).

Terjemahan jihad menjadi “perang suci”, yang dikombinasikan dengan pemikiran Barat yang keliru tentang Islam sebagai “agama pedang”, menegasikan makna filosofis dan spiritualnya serta mengubah konotasinya. Karena kehidupan pada hakikatnya mengimplikasikan gerak, maka untuk tetap berada dalam equilibrium (keseimbangan), diperlukan upaya berkesinambungan, dengan melaksanakan jihad batiniah pada setiap tahap kehidupan dalam kerangka menuju Realitas Ilahi. Melalui jihad batiniah, manusia spiritual mengakhiri semua mimpi, menuju Realitas yang merupakan sumber semua realitas (Sayyed Hossen Nasr, 2002: 168-169).

Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa para pemikir Islam memberikan pengertian berbeda mengenai jihad, mulai dari aktivitas yang berhubungan dengan peperangan melawan musuh dan kejahatan (thagut), melawan hawa nafsu, sampai pengertian sebagai usaha yang dilakukan secara serius untuk tujuan-tujuan yang baik. Mengingat konteks kajian terorisme kontemporer di Indonesia yang terus berkutat pada permasalahan paham radikal sebagai akar terorisme, perlu bagi kita untuk meninjau kembali pada asumsi ini serta menemukan klarifikasi terhadap paradigma tersebut. Hal inilah yang menjadikan kajian relasional terkait jihad dan terorisme dalam perspektif Islam menjadi semakin menarik untuk terus didiskusikan dan disosialisasikan kepada masyarakat luas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>